Another Rubbish

 

March, 3’16

Menjadi muda adalah hadiah sekaligus anugerah dari sang penentu usia, namun gelisah adalah jiwanya.

Terjebak dalam paradigma yang telah kau endapkan sendiri.

Sayang sekali, tidak seorang pun yang bisa mengukur pencapaian dirimu.

Kau lelah? Belum. Namun dia merindukan pengakuan.

Pengakuan dari siapa? Dari dirinya sendiri bahwa ia begitu dan sangat sentral dalam dunia yang telah diciptakannya.

 

Ada harga yang harus dia bayar karena telah diberikan angka-angka usia.

Membayar dengan petanyaan-pertanyaan yang harus ia jawab sendiri.

Untuk apa saya hidup?

Kenapa saya hidup?

Apa visi saya?

 

Bukankah itu pertanyaan-pertanyaan konyol?

Pertanyaan pubertas Sekolah Menengah.

Kekosongan yang berujung hampa.

Persetan dengan robot-robot yang rela didikte.

Kau memanjat tebing terjal dengan guliran keringat dan air mata, sementara yang lain berlari dan berjalan.

Apa yang kau hendaki? Apa yang kau gali?

Sombongnya dirimu berkata ketika kau akan menaklukan gunung es di selatan sana.

Dia masih berusaha dan mendaki gunung es disana dikala kaki dan tangannya berdarah. 

 

In Initia Iqbal

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s