Bennedict

January 13’16

 

CHAPTER 1

Neverland, 5 September 2010.

Bangun pagi di hari Minggu bukanlah hal yang sulit karena sebagai muslim aku telah terbiasa bangun sebelum fajar menampilkan dirinya, namun untuk menghadiri workshop di Minggu pagi dengan ontime adalah memberatkan langkah terlebih hati. Aku Shania Shakuntala Abdurrahman. Sawo matang, dengan tinggi badan 160cm dan rambut tidak terlihat karena memakai kerudung. Sangat biasa, apalagi hidupku. Aku memiliki kewarganegaraan Neverland, sebuah negara kecil di selatan Belanda, namun kakekku adalah seorang Indonesia. Abdurrahman adalah namanya.

Sebagaimana rakyat Neverland yang termasuk penggolongan ras kaukasoid, memiliki tubuh diatas 160cm, kulit putih, hidung mancung dan rambut pirang, aku terlihat berbeda. Aku juga memiliki agama minoritas disini, Islam. Namun, Neverland tidak seperti Israel yang mencibir Islam seperti hama dan Scotland yang meremehkan ras kuning. Baik, aku akan menceritakan negaraku.

Neverland adalah negara yang cukup fleksibel dan multikutural seperti negara kakekku Indonesia. Tionghoa, Melayu, Eropa, dan Negro berbaur sangat baik. Neverland adalah negara kecil dengan luas tidak lebih dari 1232,50KM² menganut azas demokrasi liberal yang dipimpin oleh seorang perdana menteri, Peter Van Croix. Pada abad ke-20 Netherland menganggap bahwa tanah yang kami huni sekarang adalah haknya. Oleh sebab itu lahirlah Neverland, pahlawan kami tidak cukup pandai dalam mencari nama lain.

Pada tahun 1845 pemerintah Netherland menjadikan tanah kami sebagai pembuangan koruptor, teroris ataupun penjahat kelas Hiu. Dan mereka dibunuh dengan cara hukum gantung atau tembak,tidak ada maaf untuk seseorang yang merugikan negara. Untuk bahasa, dengan uniknya Netherland menggunakan bahasa Indonesia. Kenapa? Karena setelah penjajahan Netherland, Neverland mendadak dikerubungi pengungsi Indonesia, termasuk kakekku. Saat itu tahun 1946, bahasa Indonesia mulai digunakan hingga kini dan telah dilegalisasi menjadi bahasa utama. Sungguh lucu melihat perdana menteriku berkomunikasi memakai bahasa Indonesia. Sekarang Neverland mengalami transformasi yang cukup mengesankan. Perekonomian stabil, pendidikan merata, keamanan kuat dengan indeks kebahagiaan mencapai 91.27% yang dilansir oleh Time Magazine  bulan kemarin, Agustus.

Shania dikejutkan dengan alarm yang menunjukkan pukul 06.00 dengan pesan : take a bath, have a breakfast, going to Neverlandict Volunteers Action’s office, without delay!!!!! Now!!!

Oh, iya. That workshop. Segera mandi, sabun seluruh tubuh dan membilas seadanya, dilanjutkan dengan memakai kemeja polos biru langit dan celana jeans Levi’s yang entah kapan dicuci untuk terakhir kalinya.

“ Ada acara kampus ya Shan?” tanya bunda.

“iya bun, bikinin aku roti bakar Nutella keju yah dan wedang jahe”.

Segala runtunan mandi-berpakain-sarapan selesai dalam 15 menit.

“aku pamit bun, Assalamu’alaikum”

Minggu pagi adalah hari terbaik untuk menunggu JeTram, sebuah tranportasi umum berupa kereta ekspres. Dapat dipastikan aku akan mendapatkan kursi nanti. Dering handphone yang bermerk HTC itu mengejutkanku. “halo, ya Nathan udah di Tram nih, iya aku gak bakal telat”. Adalah Nathan yang mempunyai hobi menjadi reminder sekaligus drama king di dalam hidupku.

Sesampainya di Neverlandict Volunteers Action (NVA) di kawasan District 7, aku bertemu teman-teman kampusku.

“Nat, mana workshopnya? Kok gak ada orang? Kamu bilang 7.30 udah mulai acaranya.” menyebalkan sekali dimana orang yang tidak menepati janji, apalagi dalam mengadakan event.

“sepertinya kita justru terlalu cepat.”

Sosok lelaki jangkung dengan tinggi berkisar 180cm, kulit kuning langsat, mata kecil namun tajam dan rambut berantakan mengajak kami masuk.

“ayo mas, mbak kita mau mulai acaranya..”. Sapanya ramah.

Betapa terkejutnya aku melihat yang datang ke workshop itu hanya kami dan orang-orang Netherland itu. Mereka berasal dari Leiden University, sebagai narasumber kami. Berasal dari Leiden ‘s Justice and Law Center, sebagai komunitas mahasiswa penegak hukum dan HAM di Leiden University.

“Okay, this will be boring day…” Keluhku dalam hati.

Setelah kami menunggu setengah jam, ya setengah jam, acaranya itu dimulai. Si rambut berantakan mulai berkata :

Assalamu’alaikum, shalom..selamat pagi semua..kami dari Leiden ‘s Justice and Law Center yang biasa disingkat LJLC akan mengadakan workshop penegakan hukum dan keadilan hingga pukul 04.00 NT(Neverland’s Time). Rangkaian acara bisa dilihat pada Rundown”. Si rambut berantakan mulai memberi khotbah apa itu LJLC dan apa yang telah mereka lakukan selama sepanjang tahun 2009-2010 dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, bukan Belanda. Caranya memberikan penjelasan sangat tegas, lancar dan memukau. LJLC merupakan lembaga independen yang telah disahkan oleh Rektor. LJLC telah melakukan workshop dan seminar di District 1, 10, dan 13. Tiga district yang terkenal terisolasi dan rentan terkena konflik antar suku.

Topik workshop kali ini adalah Capital Punishment. Kami yang berjumlah 10 orang, yang berasal dari 23 District University, ditambah dengan 13 orang lainnya dibagi menjadi beberapa kelompok. Semuanya ada 8 kelompok.  Setiap kelompok terdapat 1-2 mahasiswa Leiden. Detik ini. Detik keparat!

Si rambut berantakan menghampiri kelompokku dan berkata “ Hi, I am sorry that some of my friends cannot speak English fluently. They only communicate using Netherland…”

“It’s fine. You know my english is also not as fluent as you..”

“well…I and my friends will help you. You can ask me anytime. ” Lalu dia tersenyum simpul.

Dan aku mendadak jantungan. Dan dia berlalu.

this will be continued…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s