Berjuang Sendiri

“Sometimes it takes a good fall to really know where you stand”
Hayley Williams

September 29’16

Lagi-lagi curhat masalah pribadi di blog.

Tapi bukan sepenuhnya curhat sih, ini masalah opini yang bersarang selama 2 tahun belakangan ini. Sebagai education graduate saya punya kecenderungan melihat segala sesuatu dari sudut pendidikan. Misal : kenapa sebagian orang Indonesia suka buang sampah sembarangan? Jawabannya : karena sudah jelas sekali kurangnya kesadaran dampak buruk akan buang sampah sembarangan atau tidak punya estetika kota pada individu tersebut. Dan kurangnya kesadaran akibat kurangnya pendidikan. Ya gak sih?

Saya selalu merasa pendidikan di Indonesia selalu menekankan sisi akademis saja yang mengakibatkan orang-orang haus akan kemenangan di atas kertas atau uang.

“Kenapa harus rajin belajar sih ma?” anak berumur 7 tahun berkata.

“Iya, pokoknya harus belajar, disiplin, dan kerja keras. Gak ada orang yang sukses dan kaya karena main-main dan nonton televisi!” balas sang mama ketus.

Kenapa harus dikaitkan dengan kaya atau sukses? Memang sekolah itu untuk menjadi orang kaya ya?

Selama dua puluh tiga tahun saya hidup, (akhirnya) saya menyadari pendidikan itu BUKAN tiket menuju kekayaan. Kalo mau kaya langsung saja belajar jadi pengusaha setelah SMA. Dijamin setelah 15 tahun kemudian (umur 32-an) bisa membeli mobil.

Jadi, sekolah itu menurut saya sangat jauh dari jembatan menuju kekayaan tujuh turunan yang tidak habis-habis. Malahan dengan sekolah, saya jadi tambah sadar harta itu kecil banget untuk dijadikan patokan kesuksesan (ehm). Dari sudut pandang saya yang masih kecil ini, pendidikan itu berfungsi membuka mata, telinga dan hati kita terhadap lingkungan sekitar. Apa gunanya kalo pinter buat diri sendiri dan menumpuk pundi-pundi dollar di Standart Chartered? Saya sering banget pengen nanya ke Chairul Tanjung atau Bakrie apa mereka sudah mencapai kepuasan hidup dengan menjadi top 50 the richest person in Indonesia ?

Lantas pendidikan yang baik itu gimana sih?

Pendidikan yang menekankan aspek kesadaran, kreativitas dan fokus pada perubahan mindset jauh lebih keren daripada pendidikan yang selalu melulu tentang aljabar, trigonometri, kalkulus, grammar, genetika, dan bla bla bla… Semua itu kan sudah ditemukan, kenapa gak fokus kepada yang belum ditemukan untuk menjawab persoalan lingkungan saja? Kenapa HARUS dipaksa menyukai Matematika atau Bahasa Inggris sih? Kenapa siswa yang tidak pintar dalam matematika harus dikatakan bodoh atau dipandang sebelah mata sama ibu guru yang terhormat?

Sistem pendidikan di negara-negara barat seperti Amerika, Britania Raya, Finlandia dan Denmark selalu memperhatikan perkembangan berpikir. Mindset. Dengan fokus pada mindset atau kesadaran individu, siswa-siswa tidak perlu lagi dimaki-maki dan di teriaki untuk mau belajar. Caranya? Fokus pada mindset, jangan diajarkan teori gravitasi atau aljabar dulu kalo mereka belum mengerti kenapa harus sekolah dan belajar. Teori itu bisa diajarkan di rumah atau bisa diajarkan oleh mereka yang IQ nya 160-an. Kesadaran meneruskan sekolah dan mencintai ilmu pengetahuan yang harus dimiliki.

Oh iya balik lagi sama judul kali ini, kenapa BERJUANG SENDIRI? Maksudnya apa? Kok gak nyambung sih sama penuturan yang panjang banget tadi?

Disinilah drama kehidupan saya…

Saya pengen banget menjadi bagian dari perubahan itu, tapi belum bisa. Untuk menjadi bagian perubahan itu saya berusaha mempersiapkan diri sesempurna yang saya bisa untuk mendapatkan tiket master di negeri orang secara gratis (you know what I mean). Tapi sangat sangat sangat banyak tantangan yang saya hadapi. Banyak banget, sampe saya capek sendiri mengingatnya. Padahal niat saya pure untuk membantu atau menjadi jembatan riset antara saya dan almamater saya, dan tentunya menyumbangkan ide untuk pendidikan di daerah saya, tapi kok ya susaaaaah banget ?

Dari segala rintangan yang saya hadapi, yang paling menonjol adalah tidak punya mentor yang bisa saya curhati panjang lebar tentang rencana studi master degree yang akan saya ambil dan mengarahkan ide saya agar lebih tajam. Saya tidak punya mentor yang memahami maksud saya. Semua dosen almamater saya cuma mendukung-mendukung saja, tanpa memberikan saran yang jelas. Disinilah masalahnya. Mentor-mentor saya kurang memahami isu-isu global atau riset-riset apa yang implementatif dalam ranah pendidikan. Maka dari itu saya ingin mengambil master di negara orang. Untuk meningkatkan kualitas riset dan pendidikan di almamater saya atau di daerah saya.

Disana  letaknya berjuang sendiri.

Capek? Banget.

Menyerah? Belum

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s