BOOKWORM

April, 18’16

 

(Jujur saja, ini sedikit membosankan)

“There is no friend as loyal as a book.”
Ernest Hemingway

Terinpsirasi dari salah seorang jurnalis bola favoritku, aku menulis ini. Berawal dari komik Doraemon yang dipinjamkan oleh seorang teman sekaligus sepupu dikelas 2 SD. Maya, menawarkanku komik yang dikoleksinya dari ia berada di kelas 1 SD. Komik Doraemon pertama yang kubaca benar-benar menyihir pusat pikiran dan imajinasiku agar aku membaca jilid berikutnya dan berikutnya. Dalam waktu 4 hari aku telah membaca semua koleksi Maya yang berjumlah kurang lebih 15. Bagiku hal yang paling membahagiakan dikala itu adalah membaca komik disore hari sembari ditemani Chitoz. Doraemon telah merubah hobi menonton menjadi membaca. Selanjutnya, pengaruh kakak sepupuku yang mempunyai koleksi dongeng Cinderella, Putri Salju, Peter Pan, Aladdin. Setiap pulang ke Dumai (sebuah kota kecil di Riau) dalam rangka libur lebaran, dengan semangatnya aku membacanya berulang-ulang. Kalaupun sudah dibaca semua, aku mengulangnya lagi ibarat mengaji. Aku merasakan dongeng-dongeng itu nyata dan tanpa batas seolah memanggilku untuk masuk kedunia mereka. Sejak saat itu aku putuskan menyisihkan uang belanja untuk membeli dongeng dan komik.

Dipertengahan tahun 2003 akibat pergaulan sosialku, aku telah hangout bersama teman-teman kelasku ke Plaza yang sangat ternama dan satu-satunya di Padang. Minang Plaza. Plaza itu benar-benar kecil dan apa adanya, yang hanya mempunyai 3 lantai dan outlet-outlet yang membosankan seperti parfum paris, aksesoris dan outlet photobox. Namun, yang menjadi destinasi utamaku adalah toko buku. Aku bisa merasakan adanya medan magnet yang tinggi disana (ehmm) sehingga aku mau memisahkan diri dari teman-temanku disaat mereka bermain di Timezone. Toko buku itu kecil dan menarik. Segala buku best-seller dan komik-komik banyak tersusun rapi. Mataku terpaku pada seri tokoh dunia : Wolfgang Amadeus Mozart. Aku mengambil buku seharga Rp.11,000 itu dan membawanya ke kasir.

Ketika berada di rumah aku membuka plastik buku dan membacanya seperti tiada hari esok. Perfect.Ceritanya begitu mengesankan didukung dengan ilustrasi komik yang detail. Aku begitu sangat menyukainya. Segalanya terperinci dari Mozart lahir, remaja, dewasa sampai meninggal diceritakan secara apik. Mulai detik itu aku berniat Tunjangan Hari Raya yang menjadi pemasukan dadakan itu,  yang akan aku terima saat Lebaran nanti secara mutlak akan kubelanjakan seri tokoh dunia yang lainnya, sampai akhirnya aku punya hanya 7 komik yang seharusnya ada 25 komik, diantaranya : Hellen Keller, Wolfgang Amadeus Mozart, George Washington, Walt Disney, Florence Nightangle, Abraham Lincoln, dan Beethoven. Aku ingat, disaat itu aku menangis karena hanya mendapatkan 7 komik dikarenakan terbatasnya stok toko buku. Yah namanya juga tinggal di kota kecil dan dengan tingkat baca penduduk yang rendah, Padang. Padahal, aku sangat terobsesi  mengoleksi seluruhnya. Aku ingin membaca Julius Caesar, Isadora Duncan, Wright Bersaudara, Hans Christian Adersen, Beethoven, dan Thomas Alfa Edison.

Ketika memasuki Sekolah Menengah Pertama, aku membeli novel pertamaku Cinta Adisty. Alur dan ceritanya sangat remaja. Cinta pertama, pacaran pertama, pertemanan, permusuhan, cemburu. Tipikal teenlit zaman 2004-an. Terhipnotis dengan cinta Adisty yang sarat akan cinta pertama, aku mulai keranjingan membeli novel teenlit lainnya.Ketika aku memasuki SMA, aku menghitung kasar jumlah buku-buku diriku yang berjumlah lebih dari 100, dan menyadari banyak, banyak sekali buku-buku yang tidak atau belum dikembalikan oleh temanku. Lebih dari 50-an jumlahnya!

Aku tidak tahu apakah ini sehat atau tidak. Aku terkadang lebih menyukai berkomunikasi dengan buku dari pada manusia. Begitu relax.

Lebih menikmati membolak-balikkan lembar buku-buku dari pada menekan-nekan tombol remotetelevisi.

Anehkah ini? Seperti kata adikku “iya”. I must admit that I’m a nerd, perfectly.

Tapi bukan berarti aku tidak mempunyai teman-teman. Aku mengikuti beberapa organisasi dikampus dan di luar kampus, dan setahuku, aku cukup punya banyak teman-teman yang exist di internet ataupun di dunia nyata. Yang menjadi permasalahanku hingga saat ini adalah aku lebih selektif dalam pertemanan, dimana ketika bertemu orang-orang yang tidak searah dan sepemikiran denganku, aku cenderung tidak antusias. Namun, ketika merasakan sinyal yang sama perihal rasa, nasib,kesukaan, buku, film atau preferensi lainnya aku pasti bisa merasakannya, yah sepertichemistry. Dan lagi-lagi berkata bahwa ini tidak baik. Aku seharusnya tidak memilih dan bisa berbaur dengan baik kepada setiap orang tanpa memandang preferensi, kasta, harta, sifat atau fans klub bola mana.

Balik lagi ke buku tadi, aku menyadari ini terkadang yang membuat pikiranku dipengaruhi oleh penulis-penulis itu. Hebatnya, penulis itu juga bisa menjungkir-balikkan perasaanku. Dan yang lebih menyebalkan lagi  nih ya, ketika orang-orang seusiaku (23 tahun) menabung duit demi merasakan pernikahan idaman atau mempercantik diri di salon dan membeli perintilan-perintilan lainnya seperti : tas,baju, hijab,sepatu, aku malah menumpuk rak buku-bukuku yang sudah hampir reot.Hmmmm. Seperti penyakit, punya duit 100,000 rupiah saja sudah berani ke Gramedia, padahal seharusnya itu duit bisa digunakan ke substansi yang lebih berfaedah, seperti membeli kuota internet.

Aku malah sering berguman kepada diriku “hey Tia, jangan penuhi pikiranmu dengan pikiran-pikiran dan teori orang lain!!!”. Tapi tetap saja itu tidak berpengaruh. But I can confidently discuss about politics, economy, environment, health, and technology due to reading many books. Aku tidak pernah minder untuk berdiskusi, setidaknya itu manfaatnya. Terlebih lagi, aku cukup bangga pada diriku yang lebih suka mengurung diri di kamar demi membaca buku daripada hangout sana-sini bergosip ria dengan teman-teman. Seterusnya, cukup mensyukuri bahwa aku tidak membuang duitku untuk menghiasi di ‘luar’ namun hampa di ‘dalam’. Dan satu lagi, aku cukup tahu bahwa pembaca aktif cukup arif dan berpikiran terbuka dibandingkan dengan yang tidak. Hehe.

Akhir dari curhat-nan-panjang ini, aku ingin mendeklarasikan ; aku akan tetap jadi pembaca yang produktif. Aku ingin tetap membaca dengan gila. Setidaknya 1 bulan membaca 4-5 buku. Dan memulai membaca buku-buku yang ‘berat’ karya nutrisi dan manfaat seperti Karl Marx dan teman-temannya. Alasan aku tetap membaca? Karena pada akhirnya yang kita punya hanya amal dan ilmu yang bermanfaat. Sekian.

 

 

 

 

Di pagi hari yang sejuk dan mendung,

 

In Initia Iqbal

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s