DUNIA, AGAMA, POLITIK, KEKUASAAN, DAN INDONESIA

28th of November 2014

“The Seven Social Sins are:
Wealth without work.
Pleasure without conscience.
Knowledge without character.
Commerce without morality.
Science without humanity.
Worship without sacrifice.
Politics without principle.

From a sermon given by Frederick Lewis Donaldson in Westminster Abbey, London, on March 20, 1925.”
Frederick Lewis Donaldson

Manusia adalah insan yang paling sempurna dari insan ciptaan Tuhan yang lainnya. Tatkala kesempurnaan dan kecerdasan yang dimiliki tidak lagi diiringi dengan kedamaian hati..

Jahatkah manusia?

Presiden kita, Bapak Jokowi Widodo baru saja dilantik. Itu baru sekitar 1 bulan yang lalu.

Ini bukan tentang kejahatan Jokowi 

Berita-berita pun bermunculan tentang bapak kurus dengan 3 anak itu. Mulai dari kebiasannya yang suka blusukan, pencitraan, antek asing, antek komunis, antek yahudi, antek cina. Dan ada juga beberapa media yang memberikan opini dan fakta yang menurut mereka bahwa  Jokowi adalah pribadi rendah hati, down to earth, pekerja keras, dan merakyat.

Boleh dipilih.

You know, untuk melihat karakter seseorang diperlukan waktu. Bukan hanya sekedar mendengar beberapa sumber dari beberapa stasiun televisi, radio, koran, internet atau omongan di warung kopi saja.

Itu tergantung perspektif masing-masing.

Penilaian itu tidak ada yang murni objektif, selagi manusia yang menilai.

Semua ada unsur kekaguman, atau kebencian.

Subsidi BBM telah dicabut tanpa BA-BI-BU.

Kalau soal itu saya cukup salut dengan sistem Jokowi yang langsung menaikkan BBM tanpa menarik ulur atau menggantung berita. Tapi, sebagian orang menganggap bahwa Jokowi menjilat ludah sendiri, karena diawal masa kampanye dengan janji menggiurkan wong cilik beliau berkata, tidak akan menaikkan BBM dengan alibi pro-rakyat.

Dan sekarang BBM telah naik 2000, that’s a  good thing sir J

Pandangan saya, dan orang-orang yang merasakan bangku perkuliahan tentu sangat mendukung kebijakan ini. Kebijakan yang nantinya akan mebuahkan transportasi bak negara maju, sekolah-sekolah telah merata hingga Merauke, fasilitas rumah sakit bisa dicicipi oleh semua kalangan, hingga infrastruktur negara ini dari setiap lini akan bertransformasi seperti yang diidamkan setiap warga negara Indonesia.

Namun, bagaimana dengan 28,07 juta rakyat miskin Indonesia? Apakah mereka mengerti? Akankah mereka memahami? Bagaimanakah mereka menjalani kehidupan disaat 2000 rupiah mereka anggap sebagai angka yang membuat mereka tercekat? Oh dear..

Itu baru satu kebijakan.

Akan ada kebijakan-kebijakan yang lain, yang nantinya akan membuat masyarakat tercengang atau kagum.

Yang baru saja berlalu adalah ekonomi.

Bagaimana dengan agama dan NKRI? Hal yang tidak dapat dipisahkan dari Indonesia adalah agama. Bisa dilihat dari ideologi bangsa kita, Pancasila, dengan sila pertama.

Sejak demokrasi dimulai, kelompok, organisasi, forum, komunitas, lembaga telah bebas bermunculan.

Dari berpijak diatas landasan agama, sampai hobi semata.

Setiap individu mempunyai hak suara.

Hak mempublikasikan pikirannya, tidak peduli apakah itu pro atau kontra.

Malah, semakin kontra akan semakin dilirik begitulah jaman sekarang adanya.

Sayang, cerdas bersuara tidak diiringi dengan cerdas bertindak.

Hanya beraksi di dunia maya dengan gertak.

Mereka saling menjatuhkan saudara sendiri.

Mulai memaki, memfitnah, menipu, membohongi saudara setanah air.

Hanya untuk kekuasaan.

Hanya untuk pencitraan.

Hanya untuk simpati dan empati orang awam?

Beberapa kaum yang tergolong liberal, dan sekuler menjatuhkan kaumnya.

Atas nama pluralisme?

Atas nama demokrasi?

Aku sangat cinta NKRI.

Aku tidak mau kita saling membeci.

Beberapa kondisi mulai membingungkan logikaku.

Mulai meragukan hatiku.

Jika aku tergolong kepada kaum minoritas di negeri ini akankah aku bahagia jika atas nama agama pemimpin dipilih? Atas nama agama pemimpin dimaki? Atas nama agama pemimpin dimusuhi?

Namun, dipihak lain aku adalah kaum mayoritas. Aku muslim.

Tidak masalah jika kelompok-kelompok dan agama-agama yang lain diakui.

Tapi apakah mereka hanya sebatas ingin diakui? Aku pikir tidak.

Mereka mencoba mengeliminir semangat religius dari sebuah agama dan semangat nasionalisme dari NKRI dengan pemikiran liberal mereka. Gerakan separatis yang masih eksis.

Seperti halnya ISIS mereka mencoba melemahkan nilai-nilai warisan leluhur dari bangsa Indonesia yang memiliki karakter lokal beretika sejak jaman dahulu.

Atas nama demokrasi kesantunan ditinggalkan.

Atas nama kebebasan aliran sesat diizinkan.

Atas nama globalisasi norma tidak diakui.

Atas nama HAM, lesbian, homo, dan transgender dibolehkan.

Atas nama keterbukaan aib keluarga dibongkar.

Atas nama ayat, bom dihalalkan.

Atas nama kemajuan daerah, prostitusi dibuka.

Negaraku, akankah madani seperti dulu?

Aku tidak masalah dengan banyaknya agama, tapi kumohon jangan merusak agama dan negaraku.

Selamat malam,

In Initia Iqbal

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s