KNOWLEDGE?

Apakah tujuanmu dalam mencari ilmu? Kedengaran klise dan jadul banget pertanyaan ini.

Dua hari yang lalu, aku dan teman-temanku mengalami sebuah fase yang dinamai “jenuh” dan “frustasi”. Kita telah belajar lebih kurang selama 12 jam/hari. Tujuannya apa? Agar kita, kami, tidak sia-sia melangkah ke mari. 

Apakah gunanya ilmu? Ini adalah pertanyaan konyol, mungkin.

Aku sedikit frustasi dan demotivasi akhir-akhir ini, dan penyebabnya adalah ambisi. Ambisi untuk meningkatkan skorku. Aku telah belajar keras hingga nyaris saja melupakan lingkungan, keluarga dan Tuhan-ku. Apa sih gunanya belajar? Untuk mencari ilmu bukan? Dan ilmu itu untuk apa?

Untuk dapat merasakan bahwa kita akan selalu takut kepada Tuhan.

Agar kita selalu menjadi orang yang rendah hati..

 

“I was gratified to be able to answer promptly, and I did. I said I didn’t know.”
Mark Twain

Pernahkan kau melihat ilmuwan di Eropa? Sebagian dari mereka tidak mengendarai mobil. Mereka tidak bersenang-senang dengan liburan mewah ke Los Angeles atau Dubai. Pada umumnya mereka mengabdikan diri mereka kepada masyarakat. Kepada anak-anak yang bukan mereka besarkan dari kecil. Seorang astronot adalah manusia yang rendah hati, karena mereka tahu bagaimana kecilnya mereka di jagatraya ini. Hanya butiran partikel.

Ketika kita sedang belajar, automatically kita akan mendapatkan ilmu dan merasa kita akan semakin bodoh. Bodoh. Bodoh karena progressku yang berjalan seperti batu yang artinya stuck tidak berjalan. Atau malah fluktuatif yang terkadang membuatku senang, namun seringkali membuatku tidak nafsu makan.

Inilah yang aku alami sekarang.
Perasaan menjadi bodoh.
Perasaan menjadi seperti pemimpi yang mempunyai mimpi jauh dari kenyataan.

Kenapa kita merasa semakin bodoh? Jawabannya adalah karena kita sedang belajar. Tidak akan ada kata “habis” dalam belajar. Aku yakin, jika Allah memberi kesempatan untuk hidup yang kedua kalinya untuk manusia, maka Einstein dengan mudahnya menggunakan hidupnya untuk belajar. Karena belajar tidak akan ada kata “selesai”.

Menjadikan angka sebagai patokan adalah hal yang salah. Salah karena akan menyebabkan si pembelajar mengutamakan mengejar nilai daripada ilmu. Ujian Nasional adalah contoh umumnya. Padahal, angka adalah sesuatu yang dibuat oleh manusia. Sedangkan ilmu yang kita pelajari sewajarnya tidak patut diukur dengan angka atau skor. Ilmu hanya bisa diukur dengan skill.

Dan inilah masalahnya. Aku belum mempunyai skill yang mumpuni.
Mungkin butuh waktu, setidaknya 1 setengah bulan lagi.

Aku muak.

Tidak. Belum. Tidak akan.

Bangkit! Nikmati saja pencarian ilmu, maka kau akan bahagia 

Selamat beraktivitas,

 

Tia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s