UNTITLED

06th of January 2015
Pagi Yogya!
Hasrat tinggi kembali muncul dari permukaan hati. Mimpi, cinta, harapan, target, kasih, karir kembali terukir dalam sanubari hati setiap manusia di awal tahun baru ini.
Hei kau..janganlah berkecil hati jikalau engkau melihat catatan ini dalam keadaan gundah akibat mimpimu yang belum tercapai nantinya, semoga tidak.
 Apakah kau memulai untuk menjadi pesimis? Huh.
Karena lelah untuk menjadi optimiser hampa.
Karena lelah untuk berkata “baik-baik saja”.
Aku telah berpikir untuk konsisten dalam apa saja. Tak urung mimpi ini.
Target terbesarku dalam hidup adalah tahun ini, semoga kau bersahabat sayang. Aku hanya ingin aktual.
Jikalau beberapa bulan ke depan aku melihatmu dengan perasaan sangat kacau aku tahu aku akan kuat. Kenapa? Karena aku punya engkau Ya Allah. Dan manusia juga berhak gagal 🙂
Sebuah perasaan antisipasi yang jelek. Memperkirakan kegagalan padahal masih berlatih.
Aku ingin latihan yang berdarah, mencabik, sampai aku akan mengatakan “done!”
Aku ingin mengeluarkan tenaga, pikiran, uang hanya untuk mimpi yang satu itu. Kau telah membuatku menjadi keras ternyata.
 Apakah mimpi itu membuat manusia menjadi buta dan tuli akan habitatnya?
Apakah mimpi yang besar membuat manusia menjadi keras hati dan pikirannya?
Apakah mimpi yang besar bisa membuat manusia lupa akan saudaranya?
Lupa saudara, lupa guru, lupa orangtua, lupa harapan lain dan lupa akan bersyukur?
Liberal kata orang, yang mengajarkan pantang menyerah sekalipun dengan cara yang salah.
Aku tahu aku telah tertular. Tertular untuk menjadi ambisius dan egois.
Karena bacaanku? Karena orang yang kukagumi? Perpaduan yang buruk.
Adakah yang lebih penting dari mimpi?
Segelintir berkata cinta.
Adakah yang lebih penting dari cinta?
Segelintir berkata senyum orangtua.
Adakah yang lebih penting dari orangtua?
Segelintir berkata Indonesia, bangsanya sendiri.
Adakah yang lebih penting dari Indonesia?
Segelintir berkata….Tuhan. Tuhan. Tuhanku Allah SWT.
Aku tidak bermaksud membuat tulisan ini berakhir dengan tuhan. Sungguh. Namun hatiku telah menuntunnya. Aku takjub!
Yang selalu ada, selalu disana, selalu bisa menguatkan aku disaat mati suri sekalipun.
Dan jawabannya adalah.
Apakah yang lebih penting dari mimpi, ambisi, cita-cita, cinta, kasih, sayang dan orangtua?
Adalah Tuhan.
Selamat berakitivitas di tahun baru,

 

In Initia Iqbal
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s