BENNEDICT (3)

Chapter 3

 Saya tidak peduli dan tidak tahu apakah ada yang membaca blog saya, apalagi cerita pendek bersambung ini. Cerita ini cuma fiktif yang melintas di ruang fantasi saya, dari 2 tahun yang lalu. I hope it’s not arid for you.

Di titik yang sama kita memisah

Kau berjalan, jantungku terhenti

Lalu mimpiku menyapamu, arahku

Senyum usai, hilang makna

 

Kehadiranmu nyata di setiap sel-ku

Memanggil, merayu hati

Ajarkan aku

Menyepi tanpa sorotmu

 

 

“hai, apa kabar?”

“hello, baik.” Jawabku tanpa melafazkan alhamdulillah.

“congratulations, unexpectedly we meet again!” sambut Bennedict sambil tersenyum.

“hehe iya ya… gak nyangka banget” sumpah, rasanya aku ingin sekali detik ini berhenti agar aku bisa kabur dari hadapan si ikal yang kharismatik ini.

“are you ready for Saturday?”

“lumayanlah. Semoga bisa menang. Hadiahnya juga lumayan ya? Haha..” What the hell was that? Nada ceriaku terdengar sumbang. Kalimatku juga terdengar aneh. Situasi konyol ini membuatku mati gaya.

“cukup banyak untuk mahasiswa kaya kita. Sekitar 100 euro sih, lumayankan? Oh iya, gimana hotelnya? Kalo ada keperluan silakan telfon saya yang tertera di email kemarin”

alright, hotelnya bagus banget.  Makasih ya Ben. You’re such a nice leader here. Aku mau jalan-jalan sama teman-temanku dulu. See you!

“silakan. See you too on stage!

Aku bergegas jalan ke hotel sembari mengindari aura dan wanginya yang tidak terdefinisi oleh otakku.

***

Cukup sudah ajang suka-sukaan, aku harus fokus untuk menaklukkan hari sabtu. Pada kali ini, proposalku akhirnya terpilih untuk dilombakan di Leiden University. Akhirnya perjuanganku tidak sia-sia. Bisa dikatakan aku bekerja keras untuk acara ini. Annual Entertainment (ANNE, baca; eini) adalah acara tahunan yang diadakan di Leiden yang bertemakan hiburan seperti teater, musik  dan stand-up commedy. Sebelum acara ini digelar, diadakanlah kompetisi dan seleksi. Semua orang punya hak mengirim proposal dan gambaran project yang akan diadakan. Tim ANNE sendiri yang akan memilih siapa yang berhak berpartisipasi dalam memeriahkan ANNE. Dan salah satunya si Bennedict. Sepertinya dia terpilih menjadi ketua pada acara tersebut.

Hiburan yang akan aku tampilkan kali ini adalah teater grafis musikal. Rumit memang, tapi aku suka. Perlu diketahui aku telah gagal berkali-kali dalam ajang ini. cukup tiga kali gagal sampai akhirnya yang ke-4 mengantarkanku kemari. Kali ini, akan aku dedikasikan untuk diriku bahwa aku bisa menaklukkan orang-orang di Leiden ini.

***

Sabtu yang ditunggu-tunggu telah tiba. ANNE diadakan pada malam hari, maka kami cukup santai dalam mempersiapkan segalanya. Aku dan tim teaterku yang terdiri dari Yvone, Natalie, Nathan, Robert, Peter, dan Paul menyempatkan makan malam. Memang, semua tim teaterku adalah ras kaukasoid yang berbeda jauh secara looks  dariku. Ini Neverland, 50% dari mereka adalah kaukasoid seperti Ducth dan sisanya ras melayu, cina, latin dan afro-amerika.

“waduh, rame banget lagi…” gerutu Nathan.

Jesus, please..”  Yvone berdoa dengan menyatukan kesepuluh jarinya dan memejamkan mata.

“Shan..Shan..helloooo..are you still in this earth?” Nathan mengguncang bahuku dengan sangat tidak manusiawi.

“eh..oh…iya”

“kamu gugup ya?”

“ha? Enggak kok. Santai aja lagi! ” jawabku bohong.

seriously? Iya kamu keliatan percaya diri sekali sampai pucat begitu. Just let it flow, kamu masih berhadapan sama manusia kok. Trust me, you are great to be invited here. Kamu sudah bagus banget untuk diundang kemari. Jadi, jangan kacaukan itu dengan rasa gugup yang tidak perlu, okay?”

“thaaaanks, if I were a boy, I’ll hug you now..”

“no, thanks” jawab Nathan singkat”

***

Akhirnya setelah kejadian memalukan tadi, aku menangis tersedu-sedu di depan Nathan seorang.

“yah jangan nangis dong. Yang tadi itu kan gak memalukan banget..”

“kamu kalo menghibur nanggung banget sih. Gak memalukan banget?! ” jawabku dengan parau.

“kamu kenapa sih? Kan latian bagus-bagus aja? Kenapa kamu tadi kelihatan bingung sewaktu menyesuaikan grafis dengan gerakan teman-teman yang lain?”

no idea..” keluhku sambil mengangkat bahu.

Setelah dipikir-pikir aku juga heran mengapa aku tidak bisa konsentrasi saat acara berlangsung.

Aku selalu terlambat dalam menyeimbangkan unsur grafis yang susah payah aku desain dengan gerakan Yvone dan teman-teman. Tugasku disini adalah sutradara. Aku membuat grafis dan memilih peran-peran yang ada dalam teater ini, sementara Nathan sebagai Music Director. 

“udahlah. Gak udah dipikirin. Pengalaman sampe ke Leiden aja udah bagus, aku disini, Shan. Let’s travel tomorrow!”

Aku hanya mengaggukkan kepala.

Sepertinya Tuhan memang selalu mengirimkan momen buruk di dalam hidupmu namun tidak lupa mendatangkan orang-orang terbaik di sekelilingmu.

 

Minggu, 11 September 2011

Jam 9 malam waktu Amsterdam.

 

“one hot coffee latte with less sugar, please”

“what if I separate the sugar?”

 “alright, thanks”.

Dikarenakan kesuntukan yang muncul sehabis jalan-jalan dari pagi sampai jam 8 malam tadi, aku melarikan diri ke coffee shop yang terletak di lantai 30 di hotel ini. Gila juga. Kalo gak diundang ke Leiden mana bisa nginap disini.

Aku segera mengambil tempat duduk di pojokan, disamping kaca transparan super besar yang melukiskan keindahan kota Leiden pada malam hari. Kulirik pemandangan yang ada disebelahku yang dipisahkan oleh kaca ini. Lampu-lampu yang berasal dari gedung-gedung raksasa berkelap-kelip bagai bintang artifisial. Terlihat rakyat Amsterdam berlalu lalang mengenakan coat memasuki bar di seberang hotel ini.

Aku buka laptop, segera cek email dan quora. Tidak ada yang baru. Aku buka facebook, instagram dan twitter. Basi. Dan aku mengarahkan mataku ke seluruh penjuru kedai kopi ini.

Ternyata Bennedict ada di depanku.

Kami berjarak 3  kursi. Tepat pada detik inilah rasa percaya diri memuncak tanpa rasa malu.

 Kenapa dia juga ada disini? Masa cuma kebetulan? Apa dia juga intovert yang punya hobi menyendiri kalo lagi suntuk?

 Tanpa kusadari, Bennedict juga mengarahkan pandangan keluar dari macbook hitamnya dan tidak sengaja mata kami bertemu.

 Dua detik tanpa senyum. Detik ketiga Bennedict pun tersenyum.

Aku membalas senyumnya. Dan aku memberanikan diri bertanya konyol.

“belum tidur?”

“aku insom sih”

“Sama.”  Jawabku. Apa tidur selalu dibawah jam 12 itu termasuk insomnia?

“oh iya boleh gabung?”

“apaa??” suara Bennedict terdengat tidak jelas karena diiringi simfoni Dave Koz dari kedai kopi ini.

“saya boleh duduk disana gak? Daripada sendiri, bosen..”

Dengan semangatnya aku membalas “ oh boleh..boleh. Boleh kok, iya bosen juga sendiri ya haha”

Bennedict mencabut adapter laptop dari stopkontak, menyandang ransel birunya dan menenteng kopi serta macbook-nya.

“hati-hati..”

it’s okay, males banget buat balik-balik” balas Bennedict sambil nyengir. “well, kok sendiri? Teman-teman kamu mana?”

“tidur. Capek banget kayanya.”

“loh? Emang kamu gak capek ya?”

“tidak. Belum. Lagian rugi banget kalo ngelewati malam disini. This place is incredibly amazing”.

Bennedict mengagguk setuju. “iya betul sekali. Rugi banget kalo udah ke Aston tapi gak ke coffee shop nya”.

“kamu kenapa sendirian?” selidikku.

“gak ada. Bosen aja sih. Kebetulan masih nginep disini juga sampai besok. Yasudah, kesempatan langka kaya gini bagusnya dimanfaatkan sambil nonton serial di netflix, eh gak taunya belom keluar yang baru sih..”

“ oh gitu. Eh iya boleh nanya hal yang sedikit pribadi gak?” Penasaranku kali ini tidak terbendung, maka aku beranikan bertanya. This person is here, under your nose, Shan.

Bennedict pun terkejut. Sudah pastilah. Mana ada orang baru kenal nanya-nanya pribadi.

“kamu…a jew?” Tapi detik berikutnya aku mengutuk pertanyaan jelek tersebut.

“ Kok kamu tau?”

“ehm..gak ada Cuma intuisi saja”  intuisi?

 “oh ya? Aku gak tau bahwa kamu observer yang detail juga. Dan kamu muslim, jelas sekali” Bennedict melirik jilbabku.

“yes. Gak sentimen sama muslim kan?” kataku pedas.

“gak kok. Sama sekali tidak” jawabnya tersenyum sambil menyeruput kopinya yang sudah dingin.

“aku bergaul sama siapa saja. Nah, kalo kamu gimana? Apa kamu bakal menumpahkan kopimu ke wajahku,  karena aku pernah diperlakukan seperti itu oleh salah satu teman muslim-ku”

“enggaklah haha… Aku juga berteman sama siapa saja. Malah aku pengin banget punya teman dari berbagai negara dan agama, jadi perspektif-ku melihat dunia bisa lebih luas dan objektif. Apalagi aku cukup penasaran sama opini jews terhadap muslim.”

tough question..kalo kita berdebat tentang itu, nanti jadi… uhm.. meluas kemana-mana..”.

“iya sih. Santai aja. Aku cuma  pengin tahu apa tebakan aku benar.”

“…..”

Dead air.  

“kamu percaya takdir? Maksudku yahudi percaya itu gak?” sepertinya aku harus mengisolasi mulutku karena tidak berhenti mengucapkan pertanyaan-pertanyaan bodoh.

Ben tersenyum simpul “pada umumnya iya. Tapi aku tidak. I mean I am not quite sure. Aku lebih mempercayai kehidupan itu adalah rangkaian usaha dan kesempatan. No one controls. Kamu  yang punya kendali.

“oh..jadi gak yahudi lagi dong? Sepaham dengan Richard Dawkins? Terus kalo gak ada yang memegang kendali kenapa hal yang sudah direncanakan manusia bertahun-tahun bisa berubah?  Kenapa ada kematian? Terus, kenapa siklus kehidupan gak tertebak? Kalo bisa kita kendalikan, bukannya hidup ini pasti sempurna-sempurna saja? Maaf saya cuma..yah..lupakan saja”

“sepertinya kita punya kesamaan.”

“apa?”

“sama-sama suka pertanyaan seperti ini. sama-sama suka filsafat. Do you?”

“I do.” jawabku.

 

This will be continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s