Berdamai dengan pilihan sendiri

Retak namun tak pecah

Bisik terucap ke dalam lembaran putih

Setan tak salah, Tuhan tak lupa

Hanya manusia yang tak rela

 

Jejeran angka pada rencana sudah tiada arti

Dipaksa pada titik-titik realita

Matahari meredup, hujan menyembur

Tanah telah basah namun percikannya tidak sama lagi

 

Tatapan kosong menjadi pelipur sendu

Kumpulan kata-kata di rak kayu berubah  energi

Nyanyian ombak terdengar teduh

Disaat segerombolan manusia menjadi ngeri

 

Akhir dari konsekuensi nan penuh simpati

Mengasihani tak lupa menasehati

Menyalahi sesuatu yang belum terjadi

Pergi, siapa yang butuh ironi?

 

-Disuatu Minggu sore yang gerimis

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s