Surat Nayanika

Don’t take seriously. This is just work of  fiction.

 #1

Dear Naray,

Perkenalkan, saya Nayanika, mahasiswi Universitas Indonesia Jurusan Psikologi angkatan 2012. Saya juga bagian dari panitia talkshow “Digital Stress and Your Brain” yang akan diadakan bulan depan, tepatnya Minggu, 30 September. Kemarin saya telah mengirimkan  email kepada anda perihal kerjasama sebagai narasumber talkshow.

Namun, sampai saat ini,  saya belum menerima konfirmasi ataupun. Apakah anda telah mengirimkan email kepada anggota panitia lainnya?

Regards,

Nayanika

#2

Dear Naray,

Maaf sebelumnya, saya sudah mencoba menelpon anda berulang kali, tetapi tidak ada jawaban. Jika memang tak berkenan, mohon beri kabar secepatnya. Agar kami bisa mencari narasumber lainnya.

Terimakasih

Nayanika

 #3

Dear Naray,

Anda tidak perlu datang pada hari Minggu ke Auditorium Gedung H. Kami sudah mendapatkan pengganti anda, alumni juga. Beliau bukan kolumnis atau jurnalis baru lahir seperti anda.

Terimakasih

Nayanika

#4

Dear Naray,

Saya tahu, anda membaca semua email saya. Firasat saya mengatakan begitu. Entahlah.

Saya penasaran sekali, kenapa anda setiap hari  pulang tengah malam walaupun hari Minggu? Dan mengapa anda selalu memberi makan kucing di dekat pos satpam, di depan rumahku?

Nayanika

#5

Dear Naray,

Aku telah membaca artikel-mu di Jakarta Post kemarin. Struktur dan pilihan kata-katamu sudah tidak diragukan lagi, tetapi apakah harus memojok-kan salah seorang Pendakwah Muslim? Aku sedih bahwa objektivitas tulisanmu kian memudar. Bukankah kau juga seorang muslim? Apa sudah berbeda?

Nayanika

#6

Dear Naray,

Maaf, apabila selalu mengirim  pesan-pesan yang tidak berguna. Hanya mengingatkan,  surat ini dan surat-surat sebelumnya bukanlah surat cinta, tenang saja.

Aku hanya ingin mengatakan, kalau pulang tengah malam lagi, tolong klakson mobilmu jangan ditekan berulang-ulang. Berisik dan mengganggu sekali.

Nayanika

#7

Dear Naray,

Maaf, aku tidak pernah berniat mengguruimu. Tapi, bisakah kau tidak lagi  memberi makan kucing-kucing kampung itu lagi,  jika kau tidak ingin memeliharanya. Kucing-kucing tersebut selalu berdiri nelangsa di depan pagar rumahmu.

Aku selalu melihatnya pada sore hari, sewaktu pulang kuliah. Sialnya aku adalah pecinta binatang, maka aku yang selalu memberi makan mereka. Satu lagi, jangan pernah lagi memberikan mereka sisa tulang ayam atau ikanmu . Salah satu dari mereka muntah di depan rumahku.

Mungkin kau tidak tau rumahku yang mana.

Oh iya, terimakasih telah membaca emailku sebelumnya. Kau sudah meralat ucapanmu tentang Pendakwah Muslim itu, walaupun hanya di Twitter saja.  Terimakasih, Naray.

Nayanika

#8

 Dear Naray,

Aku baru saja melihat instagram-mu. Kau sedang di New York?

Lagi meliput apa?

Semoga pekerjaanmu lancar dan kau tidak sakit.

Nayanika

#9

 Dear Naray,

Terimakasih telah memberiku oleh-oleh dari New York, meskipun aku harus menahan malu dari pak Antos. Jika kau punya tangan dan kaki, kenapa tidak kau antarkan saja ke rumahku? Tidak perlu menitip di pos satpam segala.

 Anyway, kenapa kau tahu aku suka Humans of New York?

Nayanika

#10

 Dear Naray,

Pertama, terimakasih atas dipinjamkan Kafka on The Shore melalui asisten rumah tanggamu. Dipikir-pikir, kasihan juga jadi Mas Muji, sendirian melulu sepajang hari.

Kedua, sulitkah untuk membalas emailku?

Apa memang begitu caramu berkomunikasi dengan manusia? Berlagak misterius dan dingin?

Kau tidak perlu begitu, karena aku hanya ingin berbagi pengalaman denganmu. Lebih tepatnya, ingin mendengar cerita-cerita hebatmu mengelilingi dunia.

Sejujurnya, aku butuh teman sepertimu, walaupun kau tidak butuh aku sih.

Nayanika

#11

Dear Naray,

Akhirnya, aku bisa melihat mobilmu memasuki komplek pukul 20.00 WIB. Ternyata kau orang yang mempertimbangkan perkataan orang lain juga.

Aku lelah menunggu balasan surat darimu.

Terimakasih atas kesempatan berteman denganmu secara maya.

Nb: pesan ini tidak perlu kau balas.


#1

 Nayanika,

 Aku melihatmu di Gramedia Mall Alam Sutera. Pilihan buku-bukumu sungguh buruk sekali.

Naray Mohammad Alfa

Ps: Inspired by Windry Ramadhina. I love her books.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s