prudence

Prudence tercekat. Ini bukan taman impian yang dipuja-pujanya dalam dongeng. Prudence terbelalak. Dimana bunga-bunga yang beraneka warna dan rupa? Dimana sungai yang menjadi tempat layar kapal-kapal pinisi? Prudence marah. Prudence kecewa. Maka, ia bangun tidak mau kesana lagi. Pergi ke dunia sebenarnya, walau tidak suka. Yang jelas nyata dan ada. Waras. Prudence tidak marah lagi terhadap dunia, melainkan si dunia yang penuh amuk kepada Prudence. Tolong. Aku sedang ingin berhadapan dengan realita, seburuk apa engkau. Jangan marah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s